Catatan Pengantar Pameran Seni

Oleh Mahatma Muhammad

Sudah lumrah, ketika harimau dibicarakan dalam percakapan mengenai konservasi, perhatian segera diarahkan kepada jumlah populasinya, luas habitat yang tersisa, konflik dengan manusia, perburuan, perdagangan satwa, atau kerusakan hutan yang membuat ruang hidupnya menyempit. Pertanyaan itu penting. Tanpa pengetahuan mengenai kondisi konkret Harimau Sumatera, yang hingga hari ini masih berstatus Critically Endangered (Sangat Terancam Punah), pembicaraan tentang pelestarian mudah berubah menjadi romantisme, kerinduan pada satwa yang lebih nyaman dibayangkan daripada dihadapi.

Ada pertanyaan lain yang lebih sulit diajukan, terutama ketika konservasi ditempatkan berdekatan dengan kebudayaan. Bagaimana kebudayaan memandang keberadaan harimau? Apakah ia semata dipahami sebagai satwa yang harus dilindungi, atau hidup pula di dalam ingatan, pengetahuan, cerita, dan cara masyarakat memaknai hutan? Dan ketika keberadaan harimau ditempatkan kembali dalam hubungan semacam itu, apa yang perlu dilihat dari manusia?

Itulah titik berangkat pameran ini, dan pertanyaan itu tidak dimaksudkan selesai di ruang pamer. Kata kemudian dalam judul adalah jeda yang sengaja tidak ditutup. Harimau, kemudian kita, bukan harimau dan kita, yang membuat keduanya berdiri berdampingan seolah sudah saling mengenal. Ada urutan yang dibiarkan. Harimau datang lebih dulu, dengan hutan, tubuh, ketakutan, pengetahuan, konflik, mitos, dan kehilangan yang dibawanya. Kita datang kemudian. Pertanyaannya sederhana. Apa yang terjadi setelah itu?

Inyiak dan Jarak yang Dijaga

Di Minangkabau, kedudukan harimau tidak sederhana. Ia tidak semata dilihat sebagai predator yang harus dijauhi, dan tidak pula sepenuhnya diperlakukan sebagai satwa liar yang berdiri di luar kehidupan manusia. Sebutan seperti Inyiak atau Inyiak Balang menunjukkan bahasa penghormatan yang mengubah cara harimau disebut, sebuah jarak yang dijaga sekaligus kedekatan yang memungkinkan harimau dibaca lewat kebudayaan.

Tetapi pengetahuan itu tidak bisa dijadikan bukti bahwa masyarakat Minangkabau pada masa lalu sudah memiliki sistem konservasi yang sempurna. Klaim semacam itu membuat kebudayaan berhenti hidup dan berubah menjadi benda museum. Istilah kearifan lokal sendiri perlu diperlakukan lebih hati-hati daripada yang biasa kita lakukan. Ia terlalu sering dipakai sebagai jalan pintas untuk mengatakan bahwa masyarakat tradisional pada dasarnya sudah hidup selaras dengan alam, seolah persoalan hari ini tinggal soal mengembalikan pengetahuan lama ke tempatnya. Kebudayaan selalu berubah, masyarakat selalu bernegosiasi dengan kebutuhan hidupnya, dan hubungan manusia dengan alam tidak pernah bebas dari kepentingan yang saling berebut.

Ketika sebuah kebudayaan mengatakan bahwa harimau adalah bagian dari dirinya, sementara habitat harimau terus menyusut akibat perubahan fungsi ruang, ada jarak antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan. Jarak itulah yang dipertaruhkan pameran ini. Karya-karya di dalamnya tidak menegosiasikannya dengan cara yang seragam, dan sebagian bahkan tidak sepakat satu sama lain.

Lanskap, Tubuh, dan Batas yang Digambar Ulang

Sebagian perupa memilih untuk tidak menghias jarak itu sama sekali. Tiga kanvas Boy Nistil meletakkannya tepat di depan mata: kobaran api dan pijar jingga menggantikan hijau vegetasi secara langsung dalam Warna yang Berubah, merekam destruksi habitat sebagai peristiwa, bukan sebagai isu; permukiman beratap tradisional berdiri di kaki jajaran bukit yang masih hijau dalam Barisan Bukit, menegaskan bahwa manusia dan satwa berbagi topografi yang sama. Ketika, pada kanvas ketiga, Alam Budaya dan Habitat mempertemukan Rumah Gadang dengan pusaran motif belang harimau dalam komposisi yang tenang, ketenangan itu sendiri menjadi pertanyaan yang tidak diucapkan Boy: apa arti klaim kultural yang berdiri tegak sementara lanskap di sisinya sedang terbakar?

Pertanyaan yang sama dibawa Imam Teguh ke wilayah yang lebih personal. Harimau di Minang menaruh miniatur Rumah Gadang di punggung sang harimau, satu tubuh menanggung yang lain, klaim kultural paling harfiah dalam pameran ini. Di Bancah merespons kisah harimau sumatra bernama Bancah, yang diselamatkan dari konflik dan menyandang cacat fisik akibatnya, tubuh yang tidak gagah perkasa seperti biasanya digambarkan orang ketika berbicara tentang Sang Raja Hutan.

Namun semakin sedikit harimau yang bisa dijumpai di hutan, semakin banyak pula ia hadir sebagai ingatan, gerak, dan bayang-bayang, dan sejumlah karya justru bekerja di wilayah itu. Rangkaian karya Olimsyaf Putra Asmara mengolah harimau dan ruang hidupnya melalui berbagai medium, mulai dari permukaan kanvas, mesin transportasi, hingga maket arsitektural. Harimau hadir sebagai sesuatu yang meluruh ke dalam lanskap: kamuflase dalam Di Luar Garis Terang, ingatan yang memadat pada bidang sferis cembung dalam Lingkar Ingatan, serta tubuh yang meringkuk di Yang Berbaring di Antara Ingatan, sebelum Wajah yang Menatap Kita membalikkan arah itu lewat satu tatapan frontal.

Pada karya Inyiak di Jalan Raya, Olimsyaf memindahkan citra harimau ke bodi sepeda motor untuk menabrakkan instrumen perambah lanskap dengan satwa yang terdesak di jalur yang sama. Pendekatan itu meluas hingga ke ruang pameran itu sendiri: lewat Lukisan Ruangtemu Nan Tumpah dan Miniatur Ruangtemu Nan Tumpah, ia merekam dan mereplika struktur fisik bangunan dari susunan seng, kayu, serta pintu dan jendela bekas ini sebagai titik temu komunal tempat warga dan kegiatan seni saling menghidupkan.

Diah Anggi sampai pada persoalan yang sama lewat jalan yang berbeda. Tiga panelnya merekam gerakan Silek Harimau, dari tendangan Sipak Baliang Bawah, kuncian Kuyak Harimau, hingga kuda-kuda Manyampiang, dan di sini harimau hidup di dalam tubuh pesilat, di dalam ketepatan dan pengendalian diri yang menjadi cara silek ini mengeja naluri satwa yang menginspirasinya. Matasegara mengambil jalan yang berdekatan lewat fotografi monokrom slow shutter: Simarantang (Sanggar Mustika Minang) dan Kureta Mandaki menangkap gerak pertunjukan Minang sebagai kelebatan yang nyaris tak tertangkap kamera, sementara Aika, Sebelum Kabel-kabel Dipasang di Kepalanya meninggalkan seluruh kerangka tentang harimau dan merekam bayangan kepasrahan seorang anak berusia empat tahun sebelum pemeriksaan gelombang otak, menghadirkan wujud tubuh rentan lain di hadapan krisis dan sistem di luar kendalinya.Ada pula karya yang memilih menohok balik ke arah manusia, bukan ke arah harimau. Ego yang Dikuliti karya Jimmi Kartolo membongkar paksa sebuah boneka kain dan dakron, lalu merekonstruksinya menjadi replika kulit harimau, seolah digelar untuk diperjualbelikan. Objek yang lahir untuk memberi kenyamanan dikembalikan bentuknya menjadi trofi, dan karya ini pantas membuat kita curiga pada diri sendiri setiap kali membeli suvenir apa pun yang lahir dari kampanye pelestarian, termasuk yang mungkin lahir dari pameran ini sendiri. Rendy NJ mengambil jalan yang jauh lebih ringan lewat Ooiikk! Hihihi, Sang Raja Hutan bermahkota dengan gestur jenaka, sapaan yang membiarkan orang masuk ke persoalan ekologis lewat tawa, bukan lewat tuduhan.

Sebagian karya lain berhenti tepat di garis batas itu sendiri. Batas Jejak karya Maradoni meletakkan jejak kaki harimau di atas garis peringatan kuning-hitam, demarkasi sederhana antara ruang domestik manusia dan wilayah liar alam. Rangkaian sketsa Gusti Fitra Body membentang dari luka ekologis dalam Perangkap dan Evakuasi, transmisi pengetahuan lisan dalam Warisan Pengetahuan, penghormatan simbolis dalam Penjaga Alam, disiplin tubuh dalam Silek Harimau, hingga cita-cita hidup berdampingan dalam Harmoni. Dari tangan yang sama, Harmoni dan Perangkap dan Evakuasi bisa lahir hampir bersamaan, harapan tentang keharmonisan dan pengakuan bahwa keharmonisan itu sedang retak. Ketegangan itu tidak diselesaikan dalam pameran ini, dan memang dibiarkan menggantung.

Kesegaran dan kepolosan hadir melalui karya-karya dari Kelas Seni Rupa Kelana Akhir Pekan. Kolase Impian, Pelangi yang Dibawa Pulang, Cerita Semesta, hingga Harimau, Hutan dan Kami lahir dari tangan dan imajinasi anak-anak yang belum dibebani kerangka konservasi maupun kerangka kuratorial. Coretan telapak kaki dan wajah harimau yang dibingkai ranting kayu dalam Harimau, Hutan dan Kami adalah kepedulian yang belum tahu cara menyembunyikan dirinya di balik istilah konservasi atau kearifan lokal, pengingat bahwa sebelum segala kerumitan di atas, ada cara melihat yang lebih dulu ada.

Yang Mendahului dan Melingkupi

Respons penutup dihadirkan oleh kolektif SILOTIGO, gabungan dari Imam Teguh, Boy Nistil, dan Olimsyaf Putra Asmara, melalui tiga pendekatan ruang yang berbeda. Karya pertama mereka, Lingkaran Roda Gigi Bertabur Merak, mempertemukan lanskap kultural Minangkabau, tekstur biologis serupa bulu merak, serta jalinan roda gigi dan pipa yang merangsek dari sisi lain kanvas, sebuah alegori tentang laju industri yang menguji ketahanan nilai ekologis dan tradisi lokal sekaligus.

Karya kedua mereka memperluas jangkauan pameran keluar dari dinding galeri menuju ruang publik warga. Lewat mural Pos Pemuda RT 04 seluas 24 meter, SILOTIGO merespons bangunan pos ronda di permukiman sekitar dengan balutan gambar harimau dan imbauan warga, mempertemukan fungsi pos ronda sebagai tempat menjaga keamanan kampung dengan kesadaran menjaga ruang hidup satwa.

Sementara karya ketiga mereka mengambil judul yang sama dengan pameran ini sendiri, Harimau, Kemudian Kita. Di atas dua panel sketsel triplek, sosok harimau hadir melalui olahan mixed media yang sarat tekstur: tancapan paco-paco, tumpukan potongan kayu, serta selipan detail gambar-gambar kecil tentang kebakaran hutan yang dirangkai dalam perpaduan warna khas ketiga perupa. Karya ini lahir dari ruang diskusi intensif antara SILOTIGO dan kurator, menjadi representasi visual yang dipersiapkan untuk mengartikulasikan narasi pameran. Skala karya yang masif serta artikulasi bentuknya secara langsung memosisikan harimau sebagai pusat gravitasi visual di dalam ruang. Judul pameran ini tidak dipilih lebih dulu lalu sekadar dicarikan karya yang cocok dengannya, melainkan tumbuh dari gagasan bersama. Gagasan utamanya berakar pada kesadaran mendasar: sebelum manusia membangun peradabannya, Inyiak telah lebih dulu hadir sebagai penjaga kosmologi. Ini adalah penegasan yang sama dengan yang dijaga sejak paragraf pertama catatan ini: bahwa kata kemudian bukan basa-basi, melainkan sebuah urutan yang perlu terus diingat setiap kali kita merasa sudah cukup mengenal harimau hanya karena telah cukup sering menggambarnya.

 “Kita” di sini tidak semata merujuk pada pengunjung yang datang menyaksikan karya. Ia mencakup masyarakat yang hidup di sekitar habitat harimau, kebudayaan yang memberinya makna, para seniman yang menghadirkannya lewat kanvas, sketsa, bongkaran boneka, atau gerak silek, lembaga yang mengampanyekannya, hingga anak-anak yang menggambarnya tanpa menyadari bahwa mereka sedang ikut bersuara tentang krisis. Inisiatif kolaboratif bersama Sumatera Wild Adventure—yang membentang sejak puncak peringatan Hari Harimau Sedunia pada 29 Juli 2026 lalu hingga rangkaian Ke Rumah Nan Tumpah #11 dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan—menjadi krusial karena mempertemukan dua wilayah yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: upaya pelestarian satwa dan kerja kebudayaan, tanpa memaksakan keduanya berbaris rapi di bawah satu kesimpulan.

Pameran ini tidak dirancang untuk menjawab pertanyaan yang diajukan di awal catatan ini. Ia hanya berusaha membiarkan berbagai cara melihat berdiri di ruang yang sama, tanpa satu pun yang harus menghapus yang lain.

Saya tidak tahu apakah pameran ini akan mengubah keputusan siapa pun terhadap hutan, lahan, atau harimau. Pertanyaan itu terlalu besar untuk dibebankan pada sebuah pameran, dan barangkali memang bukan tugas seni untuk menjawabnya. Yang bisa dikerjakannya lebih kecil, membuat kita berhenti sebentar sebelum menyebut nama harimau, lalu bertanya ulang apa yang sebenarnya kita maksud ketika mengatakan ia bagian dari kita. Pertanyaan itu akan tetap ada, dibawa pulang oleh siapa pun yang datang, dan dijawab sendiri-sendiri di luar pameran ini.

Harimau, kemudian kita. Apa yang terjadi kemudian?

Kasai, 3 September 2026

Kabar Lainnya