Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) menerima 11 mahasiswa magang dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Pendidikan Guru Indonesia Sumatera Barat (UPGRISBA). Kegiatan magang ini berlangsung selama dua bulan, terhitung mulai 29 Juli hingga 29 September 2026.
Program ini merupakan bagian dari agenda tahunan UPGRISBA untuk mempertemukan mahasiswa dengan praktik lapangan di luar kampus. Dari total 25 mahasiswa dalam satu angkatan, 11 orang memilih jalur Pelaku Seni Teater dan menjadikan Nan Tumpah sebagai tempat belajar. Komunitas ini dipilih karena dinilai konsisten dalam merawat dan menghidupkan ekosistem seni pertunjukan di Sumatera Barat melalui pendekatan yang inklusif dan berakar pada masyarakat.
Ketua KSNT, Mahatma Muhammad, menyebut keputusan menerima mahasiswa magang sejalan dengan misi Nan Tumpah setelah sekretariatnya berpindah ke Padang Pariaman. Kini, fokus komunitas tidak hanya pada produksi karya panggung, tetapi juga memperluas ruang perjumpaan seni agar dapat tumbuh dan mengakar merata di tengah warga.
“Kami berharap kehadiran mahasiswa magang bukan sebatas mengikuti rangkaian program internal Nan Tumpah. Lebih dari itu, kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk terjun langsung, berinteraksi dengan masyarakat, dan mendapatkan pelatihan khusus dari komunitas sebagai bagian dari pengembangan diri,” ujar Mahatma.
Dalam dua bulan ke depan, para mahasiswa terlibat langsung dalam proses latihan, produksi, serta berbagai aktivitas kebudayaan warga. Selain praktik seni pertunjukan, mereka juga dibimbing memahami tata kelola seni (arts management), proses kreatif, kerja tim, hingga bagaimana seni bekerja merespons dinamika sosial di lapangan.
“Dengan begitu, selain memperoleh pengalaman bersosial dan berorganisasi, mereka juga mendapatkan ilmu yang mengasah kreativitas di berbagai bidang seni. Harapannya, setelah kembali ke kampus, mahasiswa membawa pulang keterikatan sosial dan bekal keterampilan praktis yang tidak selalu didapat di bangku kuliah,” tambah Mahatma.
Hampir dua minggu sejak kegiatan dimulai, para mahasiswa telah membentuk struktur kesekretariatan dan membagi tugas organisasi. Mereka juga telah menentukan fokus peminatan masing-masing serta rutin menulis jurnal harian yang nantinya dihimpun menjadi esai akhir catatan proses kreatif.
Rangkaian pembelajaran di lapangan pun telah berjalan. Salah satunya melalui keterlibatan mahasiswa sebagai panitia dalam program tahunan Nan Tumpah Masuk Sekolah (NTMS) 2026 yang digelar di Sekretariat KSNT pada Jumat, 31 Juli 2026.
Pembelajaran tata kelola seni makin diperkaya melalui kolaborasi lintas komunitas. Pada 4–6 Agustus 2026, mahasiswa menimba ilmu bersama Komunitas Rumah Ada Seni, rekanan KSNT. Di sana, mereka mempelajari manajemen pameran seni rupa sekaligus mempraktikkan teknik dasar melukis di atas kanvas di bawah bimbingan Ketua Komunitas Rumah Ada Seni, Yusuf Fadly Aser.
Di sela agenda tersebut, pada 4 Agustus 2026, mahasiswa turut mendampingi partisipan kelas Kelana Akhir Pekan Nan Tumpah yang tengah menggelar karya dalam Saba Festival 3 di Taman Budaya Sumatera Barat. Keterlibatan ini menjadi ruang riset dan survei lapangan bagi mahasiswa untuk mengamati langsung bagaimana dinamika tata kelola pameran serta bagaimana seni diapresiasi oleh publik luas.
Per 9 Agustus 2026, mahasiswa kembali beraktivitas di sekretariat KSNT untuk mempersiapkan agenda berikutnya. Ke depan, mereka akan mengikuti kelas pengembangan diri bersama para mentor di bidang tari, musik, seni rupa, teater, dan penulisan fiksi.
Selain itu, para mahasiswa magang akan berproses bersama masyarakat dalam rangkaian agenda Ke Rumah Nan Tumpah #11 serta Gelar Karya Kelana Akhir Pekan yang dijadwalkan berlangsung pada 22–29 Agustus 2026 mendatang. Melalui program ini, mahasiswa belajar mengelola perhelatan seni pertunjukan secara holistik—mulai dari tahap pra-kegiatan, saat pelaksanaan, hingga pasca kegiatan—sekaligus aktif melebur dalam ruang belajar seni bersama warga.
Apresiasi atas kolaborasi ini disampaikan oleh Dr. Iswadi Bahardur, S.S., M.Pd., Dosen Pembimbing sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra UPGRISBA. Ia berterima kasih kepada KSNT yang telah membuka ruang belajar yang luas bagi para mahasiswa.
“Mahasiswa tidak cukup hanya belajar satu bidang seni, setidaknya mereka punya keterampilan pendukung lain. Pengalaman mahasiswa kami dalam berkesenian masih sedikit, mohon untuk terus dibimbing dan dikembangkan,” kata Iswadi.
Iswadi juga berharap sebelum masa magang berakhir, mahasiswa dapat menghasilkan satu produk karya yang dinilai langsung oleh tim Nan Tumpah. Ia bahkan membuka peluang keberlanjutan kerja sama ini.
“Silakan ikutkan mereka di berbagai program Nan Tumpah. Tidak menutup kemungkinan mereka bisa terus menjadi bagian dari Nan Tumpah setelah magang selesai,” ujarnya. Ia berpesan agar mahasiswa memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun motivasi belajar mandiri sehingga membawa pulang pengalaman serta kematangan dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Melalui kolaborasi ini, Komunitas Seni Nan Tumpah dan UPGRISBA berharap dapat terus merawat jembatan antara dunia akademik dan praktik kebudayaan di masyarakat demi mewujudkan ekosistem seni yang partisipatif dan berkelanjutan di Sumatera Barat. (*)








