Program Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #11 yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) resmi berakhir pada 12 September 2026. Selama delapan hari penyelenggaraannya, 5–12 September 2026, Sekretariat KSNT di Korong Kasai, Nagari Kasang, Padang Pariaman, menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan seniman, masyarakat, pelajar, dan komunitas dalam berbagai kegiatan seni, diskusi, lokakarya, hingga pemutaran film.
Sebagai program rutin KSNT, KRNT hadir bukan sekadar sebagai festival seni, melainkan rumah terbuka tempat masyarakat dapat menikmati karya, mengikuti proses kreatif, bertukar pengetahuan, dan terlibat langsung dalam aktivitas berkesenian. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari proses apresiasi, pembelajaran, dan dialog yang berlangsung selama kegiatan.
Manajer Program Komunitas Seni Nan Tumpah, Fajry Chaniago, menyampaikan bahwa Ke Rumah Nan Tumpah dirancang sebagai ruang yang memungkinkan masyarakat terlibat lebih dekat dengan berbagai praktik seni dan kebudayaan. “KRNT bukan hanya tentang menghadirkan pertunjukan atau memamerkan karya, tetapi juga sebagai ruang temu bersama masyarakat, khususnya masyarakat Korong Kasai untuk bertemu, belajar, berdialog, dan mengalami proses berkesenian secara langsung. Kita ingin ruang ini menjadi milik bersama, tempat seniman, pelajar, anak-anak, dan masyarakat dapat saling berbagi pengetahuan serta pengalaman. Melalui KRNT #11, kita juga berupaya mempertemukan isu kebudayaan, pendidikan seni, dan lingkungan dalam satu rangkaian kegiatan yang saling terhubung,” ujar Fajry.
Tahun ini, KRNT #11 mengusung dua agenda utama, yakni Pameran Seni Kampanye “Harimau Adalah Minang” bertajuk Harimau, Kemudian Kita serta Gelar Karya Kelana Akhir Pekan Angkatan III bertema Ada Banyak Kita di Sini. Kedua agenda tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan manusia, budaya, dan alam melalui berbagai medium seni.
Pameran Harimau, Kemudian Kita merupakan kolaborasi KSNT bersama Sumatra Wild Adventure dan Kelompok Silotigo. Melalui pameran ini, publik diajak melihat Harimau Sumatera bukan semata sebagai angka yang terus menyusut dalam data konservasi, melainkan sebagai bagian dari ingatan kolektif, pengetahuan budaya, kepercayaan, serta luka ekologis yang turut membentuk kehidupan masyarakat Minangkabau.
Kurator pameran sekaligus Ketua KSNT, Mahatma Muhammad, menjelaskan bahwa pameran ini lahir dari kegelisahan terhadap cara masyarakat memandang harimau. “Judul Harimau, Kemudian Kita. Kata “kemudian” sengaja dipilih untuk menegaskan adanya urutan yang terbuka untuk ditafsirkan. Harimau hadir lebih dahulu bersama hutan, tubuh, pengetahuan, mitos, konflik, dan kehilangan yang mengitarinya. Manusia datang kemudian, dan dari sanalah muncul pertanyaan tentang hubungan yang terus berubah antara keduanya,” ujar Mahatma.
Gagasan tersebut diterjemahkan para perupa melalui berbagai karya. Boy Nistil menghadirkan refleksi tentang perubahan lanskap dan ruang hidup, Olimsyaf Putra Asmara mempertemukan citra harimau dengan kendaraan bermotor sebagai simbol benturan antara pembangunan dan habitat satwa, sementara Imam Teguh mengangkat tema konflik manusia dan harimau melalui karya-karya yang menempatkan Rumah Gadang dan tubuh harimau dalam satu ruang visual.
Di sisi lain, Diah Anggi mengeksplorasi gerak Silek Harimau, Matasegara menghadirkan dokumentasi fotografi pertunjukan Minangkabau, dan Jimmi Kartolo mengkritik industri suvenir konservasi melalui karya instalatifnya. Rendy NJ menawarkan pendekatan yang lebih ringan melalui humor visual, sementara anak-anak Kelas Seni Rupa Kelana Akhir Pekan menghadirkan karya Harimau, Hutan dan Kami yang memperlihatkan hubungan mereka dengan alam melalui bahasa visual yang sederhana dan jujur.
Narasi pameran diperkuat oleh karya-karya Kolektif Silotigo, mulai dari karya instalasi berukuran besar Harimau, Kemudian Kita, mural sepanjang 24 meter di Pos Pemuda RT 04 Korong Kasai, hingga karya Lingkaran Roda Gigi Bertabur Merak yang berbicara tentang laju industri dan perubahan ruang hidup.
Pameran tersebut menjadi pusat berbagai aktivitas selama KRNT #11 berlangsung. Selama hari penyelenggaraan, galeri dibuka untuk umum dan dilengkapi dengan tur pameran yang memungkinkan pengunjung berdialog langsung dengan gagasan-gagasan yang dihadirkan melalui karya seni rupa.
Suasana pembukaan KRNT #11 pada 5 September 2026 menjadi penanda hidupnya kembali Ke Rumah Nan Tumpah sebagai ruang kebudayaan. Dihadiri oleh Kepala Kerapatan Adat Nagari (KAN), dan tokoh-tokoh masyarakat se-Kanagarian Kasang. Beragam komunitas seni tampil memeriahkan acara, mulai dari Sanggar Museum Perang Sintuak melalui Tari Tagak Basamo dan Gandang Tambua, Sanggar Pangpek Sadagam dengan Tapuak Galembong, Sanggar Tuah Sepakat melalui Randai Siti Baheram, Sanggar Bungo Lado dengan Tari Piring, hingga Sanggar Seni Marawa yang menampilkan Tari Tampuruang karya Aprilia Putri Amanda. Pembukaan juga menghadirkan pertunjukan teater-puisi Menyambung Jembatan Putus dari Komunitas Seni Ku-Liek.
Selain itu, KRNT #11 juga menghadirkan berbagai pelatihan cipta karya yang melibatkan masyarakat dan pelajar secara langsung. Beragam kegiatan kreatif digelar sepanjang pekan, mulai dari pembuatan asbak berbahan gipsum, pajangan dinding, kriya dari sampah plastik, kolase kain perca, hingga pemanfaatan kardus dan material bekas menjadi karya yang memiliki nilai artistik dan fungsi baru. Melalui kegiatan ini, seni diperkenalkan sebagai praktik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai cara untuk menumbuhkan kesadaran terhadap isu lingkungan.
Ruang dialog juga hadir melalui peluncuran buku “Harimau Adalah Minang: Jejak Harimau dalam Tradisi, Kepercayaan, dan Ingatan Orang Minangkabau” karya Novi Refika dan Sefniwati, yang diterbitkan oleh Sumatera Wild Adventure. Diskusi buku yang dipandu oleh Fajri Rahman memperluas percakapan mengenai posisi harimau dalam kebudayaan Minangkabau serta pentingnya pendekatan kebudayaan dalam upaya pelestarian lingkungan.
Setiap malam, halaman Sekretariat KSNT berubah menjadi ruang layar tancap yang menghadirkan karya-karya sineas Sumatera Barat. Berbagai film diputar sepanjang penyelenggaraan KRNT #11, di antaranya After the Trees karya Dhika Rizki, Manjapuik Raso, Siampa dan Tunduak Padi produksi Mozaik Art Lab, Barendo dan Galatiak produksi Komune Film Silogui, Marosok, hingga Bungkuih produksi Manoc Films. Pemutaran film tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai identitas budaya, lingkungan, dan pengalaman masyarakat lokal.
Puncak kegiatan berlangsung pada malam penutupan, 12 September 2026, KRNT #11 menjadi panggung Gelar Karya presentasi hasil belajar peserta Kelana Akhir Pekan Angkatan III, bertajuk Ada Banyak Kita Disini. Program yang berlangsung sejak April hingga Agustus 2026 ini memberikan ruang belajar seni secara gratis bagi masyarakat Nagari Kasang melalui kelas Tari, Musik, Teater, Silek, Seni Rupa, dan Menulis Kreatif. Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, pekerja harian, hingga ibu rumah tangga.
Diawali dengan laporan wali kelas Kelana Akhir Pekan, Desvy Sagita, yang menyampaikan bagaimana proses pembelajaran selama satu angkatan ini berlangsung dan penyerahan sertifikat hasil belajar kepada seluruh peserta Kelana Akhir Pekan Angkatan III sebagai penanda berakhirnya Kelana Akhir Pekan Angkatan III.
Berbagai kelas kemudian menampilkan hasil proses belajar mereka. Kelas Tari 1 membawakan tari berjudul Bisik Angin di Ujung Ranting karya Desvy Sagita dengan musik Tenku Raja. Kelas Seni Rupa yang dimentori oleh Olimsyaf Putera, selain menghadirkan pameran Ada Banyak Kita di Sini, juga menampilkan sebuah pertunjukan fashion show, menampilkan hasil eksplorasi pakaian dan benda-benda sehari-hari sebagai media kreatif. Kelas Musik dimentori oleh Tenku Raja dan Desi Fitriana menampilkan Suara yang Terdengar dari Balik Jendela Ruangtemu – Bagian 2, sementara Kelas Teater dengan mentor Fajry Chaniago membawakan pertunjukan Setelah Air Surut. Kelas Silek dimentori oleh Kiki Nofrijum menampilkan Anak-anak dalam Bungo Silek Sitaralak, sedangkan Kelas Tari 2 dengan mentor Desvy Sagita membawakan karya berjudul Pepatah yang Kehilangan Bahu, karya yang mengangkat nilai gotong royong melalui simbol bambu.
Malam penutupan juga diramaikan oleh Syabila Deyolova, menghadirkan monolog anak Puti dan Sampelong Abak, naskah dan sutradara Fajry Chaniago, yang mengangkat kisah seorang anak tentang krisis sumber air akibat kerusakan alam. Komunitas Kiraku Nan Jombang turut tampil melalui Tari Kelana garapan Boni Recta Saputra dan Tari Kimbo Class karya Putri Nanzofah yang mengangkat semangat kebersamaan dunia anak. Penampilan tari Patah Baginjai dari Ekstrakurikuler SMAN 1 Lembang Jaya, merupakan sekolah terpilih hasil kurasi pada program Nan Tumpah Masuk Sekolah (NTMS) 2026 yang telah terselenggara sebelumnya. Serta pertunjukan musik berjudul Ritual Bunyi Minangkabau dalam Dunia Modern yang Kacau dari Jumaidil Firdaus yang memadukan idiom musikal Minangkabau dengan bunyi-bunyian modern sebagai refleksi atas perubahan zaman dan hubungan manusia dengan alam, menjadi penutup seluruh rangkaian KRNT #11.
Selama delapan hari penyelenggaraannya, KRNT #11 memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara masyarakat, kebudayaan, dan lingkungan. Melalui pameran, diskusi, pelatihan, pertunjukan, hingga pemutaran film, Komunitas Seni Nan Tumpah kembali menegaskan komitmennya untuk merawat ruang belajar yang terbuka, memperkuat hubungan manusia dengan alam, serta menghadirkan rumah bersama tempat berbagai gagasan, pengalaman, dan keberagaman dapat bertemu. Sebagaimana tema Gelar Karya Kelana Akhir Pekan Angkatan III, KRNT #11 menjadi pengingat bahwa dalam kebudayaan dan kehidupan bersama, selalu ada banyak kita di sini. (*)








