Anggota Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT), Diah Angginauli Sitompul, berhasil meraih penghargaan Foto Cerita Terbaik dalam Lokakarya Foto Cerita Liku-liku Padang 2026 yang diselenggarakan oleh Padang Photo Festival dalam rangka perayaan Hari Jadi Kota Padang ke-357.
Lokakarya ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan Padang Photo Festival yang bertujuan memberi ruang belajar sekaligus pendampingan bagi fotografer muda dalam mengembangkan karya foto cerita. Dari sejumlah pendaftar, panitia memilih 10 fotografer muda untuk mengikuti program yang berlangsung pada 17 Agustus hingga 5 September 2026. Selama lokakarya, para peserta mendapat pendampingan intensif dari mentor Zulkifli dan Adzwari Ridzki dalam menyusun riset, membangun narasi visual, hingga menyelesaikan karya foto cerita.
Dalam lokakarya tersebut, Diah Anggina mengangkat tema “Angkot: Simpul yang Bertahan.” Melalui proyek ini, ia menyoroti angkutan kota (angkot) sebagai bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat Kota Padang.
Proses penyusunan foto cerita diawali dengan observasi selama kurang lebih dua minggu. Diah mewawancarai sejumlah sopir angkot dari berbagai rute, mengikuti aktivitas mereka sehari-hari, serta melakukan pengamatan di Pasar Raya Kota Padang, yang menjadi titik pertemuan berbagai trayek angkot. Dari proses itu, ia menemukan banyak kisah tentang kehidupan para pengemudi, penumpang, dan perubahan mobilitas masyarakat di tengah perkembangan teknologi transportasi.
Menurut Diah, angkot bukan sekadar kendaraan yang membawa penumpang dari satu tempat ke tempat lain.
“Angkot menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat perdagangan, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Pergerakan itu menjadikan angkot sebagai salah satu simpul yang mempertemukan banyak perjalanan dan menjadi bagian dari sejarah mobilitas Kota Padang,” ujarnya.
Tema tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian foto yang menampilkan berbagai sisi kehidupan angkot, mulai dari aktivitas di terminal, perjalanan di jalan raya, hingga interaksi antara sopir dan penumpang. Melalui pendekatan itu, Diah mencoba menghadirkan cerita tentang ruang hidup yang masih bertahan di tengah perubahan kota.
Diantara seluruh peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, Diah Anggina dengan karyanya “Angkot: Simpul yang Bertahan” berhasil dinobatkan sebagai Foto Cerita Terbaik oleh tim penilai Padang Photo Festival. Penilaian diberikan karena isu yang diangkat dinilai memiliki relevansi kuat dengan kehidupan Kota Padang dan berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat, namun menyimpan persoalan yang lebih luas, seperti mobilitas warga, mata pencaharian, kehidupan keluarga, serta upaya bertahan di tengah kemajuan teknologi.
Tim penilai juga menyoroti proses yang dilakukan Diah dalam membangun cerita visual. Ia tidak hanya memotret objek, tetapi mengikuti perjalanan, menemui banyak narasumber, dan mengumpulkan gambar-gambar yang saling melengkapi sehingga membentuk narasi yang utuh. Keterkaitan antara isu, proses riset, dan hasil akhir itulah yang membuat karya tersebut menonjol di antara peserta lainnya.
Atas penghargaan yang diraihnya, Diah mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari lokakarya sekaligus memperoleh apresiasi atas karya yang ia kerjakan.
“Saya sangat bersyukur bisa terpilih sebagai penerima Foto Cerita Terbaik di Lokakarya Foto Cerita Liku-liku Padang ini. Harapan saya, semoga tahun depan kegiatan ini kembali diadakan dan dapat membimbing fotografer-fotografer berbakat lainnya,” ungkap Diah.
Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Komunitas Seni Nan Tumpah sekaligus menunjukkan pentingnya proses belajar, riset, dan pendampingan dalam melahirkan karya fotografi yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga mampu merekam dan menceritakan kehidupan masyarakat melalui sudut pandang yang dekat dengan keseharian.(*)








