PADA 30-31 Oktober 2024, Komunitas Seni Nan Tumpah melalui program Nan Tumpah Masuk Sekolah (NTMS) 2024, mengunjungi beberapa sekolah di Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Bekerjasama dengan Komunitas Sinuruk Mattaoi dengan programnya yang bertajuk Musinuruk ka Simaeruk, NTMS 2024 berhasil diselenggarakan di SMA Negeri 1 Siberut Selatan, SMA Lentera Mentawai, SMP Negeri 1 Siberut Selatan, dan SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai.
Dalam program ini, Komunitas Seni Nan Tumpah membawakan pertunjukan teater berjudul “Jam Belajar Tambahan” yang ditulis oleh Yunisa Dwiranda dan disutradarai oleh Ivan Harley. Ivan Harley, sutradara pertunjukan “Jam Belajar Tambahan” mengatakan bahwa pertunjukan ini bercerita tentang pemilihan ketua OSIS di suatu sekolah antah berantah, namun calon-calon ketua OSIS yang disodorkan itu sebenarnya tidak ada yang kompeten dan kemudian hal itu diperparah dengan penyelenggaraan pemilihan yang amburadul. Pertunjukan ini disajikan dengan gaya komedi dan tidak berusaha untuk nyinyir menyodorkan pesan-pesan tertentu. Biarlah para penonton yang mengambil pesan-pesan tersebut, jika memang ada.
“Jam Belajar Tambahan” merupakan pertunjukan kedua yang ia garap di Komunitas Seni Nan Tumpah. Sebelumnya, pada tahun 2018, ia juga menjadi sutradara di program Nan Tumpah Masuk Sekolah. Kala itu ia menggarap pertunjukan berjudul “Bincang-bincang Mmwwmhhfft” dan dipentaskan di beberapa sekolah di Kota Payakumbuh.
Pada pertunjukan kali ini, Ivan menggandeng Diah Anggina Uli Sitompul, Hilda Ismia Putri, Umma Falazakiyah, Rahmila Wahdera, Sekar Wangi Arasti Yasmin, Desi Fitriana, dan Fajry Chaniago sebagai pemain. Selain itu, Tenku Raja Ganesha, yang dikenal sebagai penata musik pertunjukan Komunitas Seni Nan Tumpah ia dapuk sebagai penata musik. Tenku membawa dua orang pemusik, yaitu Teguh Pratama dan Agung Illahi.
Dalam kerja produksi, Fajry Chaniago, yang juga bertindak sebagai pemimpin produksi NTMS 2024 menerangkan, “Nan Tumpah Masuk Sekolah adalah program rutin Komunitas Seni Nan Tumpah sejak 2011. Program ini adalah program pemberian pelatihan teater kepada siswa-siswa sekolah di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, dalam program ini KSNT juga akan menampilkan pertunjukan teater langsung di sekolah-sekolah yang dikunjungi.”
Hari Pertama
Pertunjukan pertama dalam rangkaian Nan Tumpah Masuk Sekolah 2024 ini diselenggarakan di SMA Negeri 1 Siberut Selatan, tepatnya di ruangan OSIS, pada pukul 10.00 WIB. Pertunjukan kala itu rencananya akan diselenggarakan di lapangan sekolah, namun karena kondisi cuaca tidak memungkinkan, maka pementasan dipindahkan ke ruangan OSIS. Ruangan OSIS itu dibagi menjadi dua bagian; bagian pertama adalah area pementasan dan bagian kedua area penonton.

Area penonton dipadati oleh sekitar 40-an siswa yang berasal dari kelas X dan XI. Ivan selaku sutradara menyampaikan, “Pertunjukan ini sejak awal didesain untuk menjadi pertunjukan yang fleksibel, bisa dipentaskan dalam ruangan maupun luar ruangan. Sehingga, ketika dipentaskan di dalam ruangan kelas, tidak ada kendala yang berarti. Hanya saja area permainan menjadi lebih terasa sempit. Tapi itu tidak masalah.”
Pertunjukan ini selesai sekitar 11.00 WIB. Rombongan kemudian segera bergegas untuk pementasan di lokasi selanjutnya, yaitu di SMA Lentera Mentawai. Pementasan kali ini diselenggarakan di aula atau ruangan serbaguna dan dihadiri oleh sekitar 100-an penonton; siswa, guru, dan beberapa pengurus sekolah. “Pementasan kali ini lebih leluasa karena ruangan aula memang sudah seperti ruangan pertunjukan; ada panggung dan area penonton yang terpisah,” tanggap Ivan setelah pertunjukan ini usai pada sekitar pukul 12.00 WIB.

Selain pementasan, dalam NTMS 2024 juga disertai dengan program pelatihan teater bagi sekolah-sekolah yang dikunjungi Komunitas Seni Nan Tumpah. Pelatihan teater ini diselenggarakan pada pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. Materi pelatihan pada hari pertama adalah olah tubuh, olah rasa, olah sukma, dan olah vokal. Pemateri yang ditunjuk pada pelatihan hari ini adalah Tenku Raja Ganesha, Desi Fitriana, dan Ivan Harley serta Fajry Chaniago. Pada hari ini pula masing-masing peserta dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok yang nantinya akan menggarap satu pertunjukan yang dipentaskan pada penutupan “Musinuruk ka Simaeruk”.
Hari Kedua
Pada hari kedua, pertunjukan pertama diselengarakan di SMP Negeri 1 Siberut Selatan. Pertunjukan kali ini kembali diadakan di ruangan kelas. Pementasan dimulai pada pukul 09.00 WIB, tertunda sekitar satu jam dari yang awalnya direncanakan untuk dipentaskan pada pukul 08.00 WIB. “Cuaca tidak memungkinkan. Hujan deras sekali. Untuk itu kami menunda satu jam untuk dipentaskan. Sebab, hujan yang deras dikhawatirkan akan menjadi kendala,” ujar Fajry, pemimpin produksi NTMS 2024.

Selanjutnya, pada pukul 10.30 WIB, pertunjukan terakhir diselenggarakan di SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai. Sekembali dari sekolah-sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan melanjutkan pelatihan dasar-dasar teater yang sudah diselenggarakan sehari sebelumnya. Kegiatan pelatihan hari kedua ini dimaksudkan sebagai pendalaman materi sebelumnya dan juga menyusun landasan pertunjukan untuk dipentaskan keesokan harinya.

“Mumain Simakerek”, “Asal Usul Pohon Sagu”, dan “Ayam Dahulu, Anak Kemudian”
Keesokan harinya, ada tiga pertunjukan teater hasil pelatihan program Nan Tumpah Masuk Sekolah 2024 yang berangkat dari kearifan lokal Desa Maileppet dan juga cerita rakyat yang berkembang di Kepulauan Mentawai. Pertunjukan pertama berjudul “Mumain Simakerek”. “Mumain Simakerek” bercerita tentang kegamangan kanak-kanak dalam posisi untuk terus mempertahankan permainan tradisional atau perlahan beralih ke permainan yang lebih mengandalkan teknologi. Jika bertahan dengan permainan tradisional, ada rasa takut tertinggal sementara jika beralih ke permainan yang mengandalkan teknologi sarana dan prasarana masih belum memadai. Kemudian ada pertunjukan “Asal Usul Pohon Sagu”. Pertunjukan ini digarap berdasarkan salah satu cerita lisan yang beredar di Desa Maileppet tentang seorang anak yang kerap merengek meminta sesuatu pada ayahnya, namun selalu ditolak. Ia kemudian “dibuang” ayahnya ke suatu tempat dan berubah menjadi pohon sagu. Hal tersebut pada akhirnya membuat ayahnya menyesal.
Terakhir, ada pertunjukan berjudul “Ayam Dahulu, Anak Kemudian” yang bercerita tentang beberapa anak sekolah yang kerap terlambat datang ke sekolah karena mesti menyelesaikan banyaknya pekerjaan rumah di pagi hari sebelum bisa berangkat ke sekolah. Pertunjukan-pertunjukan yang ditampilkan tersebut, merupakan hasil dari pelatihan yang diberikan Komunitas Seni Nan Tumpah dalam program Nan Tumpah Masuk Sekolah 2024 yang berlangsung dari tanggal 30 Oktober 2024 sampai dengan 1 November 2024. Tenku Raja, salah seorang pelatih dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa pertunjukan-pertunjukan yang ditampilkan oleh kawan-kawan dari SMA N 1 Siberut Selatan, SMA Lentera Mentawai, SMP Negeri 1 Siberut Selatan, dan SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai ini berangkat dari ide dan gagasan yang dilontarkan oleh mereka. Kami selaku pelatih hanya membantu merangkai dan menyesuaikan dengan materi-materi dasar yang diberikan selama 3 (tiga) hari belakangan. “Waktu 3 (tiga) hari yang digunakan untuk pelatihan dan persiapan pertunjukan sebenarnya bukanlah waktu yang cukup. Namun, saya senang bisa melihat bahwasanya peserta bisa mengikuti pelatihan dengan antusias dan bisa menampilkan hasil pelatihan tersebut dengan sungguh-sungguh,” ungkap Tenku. []









