Merawat Negeri dengan Cara Kekinian oleh Ragdi F. Daye

 


Merawat Negeri dengan Cara Kekinian;

Apresiasi Pendek atas Pertunjukan “Catatan Si Padang”

Oleh Ragdi F. Daye


Pertunjukan "Catatan Si Padang" yang disutradarai oleh Mahatma Muhammad bercerita tentang perjalanan seorang anak perempuan yang menelusuri kawasan Muaro di Kota Tua Padang. Secara tidak sengaja, anak perempuan tersebut “ditarik” masuk ke dalam salah satu gedung cagar budaya. Di gedung tersebut, melalui cerita seorang perempuan tua, anak perempuan itu menyaksikan penggalan peristiwa-peristiwa tentang sejarah Kota Padang, yang sejak abad ke-15 dikenal sebagai bandar perdagangan. Proses kreatif penciptaan karya seni pertunjukan media baru berjudul "Catatan Si Padang" dikerjakan oleh Komunitas Seni Nan Tumpah, berkolaborasi dengan lintas disiplin bidang seniman dan komunitas seni di Sumatera Barat. Selain riset merujuk pada beberapa peristiwa sejarah Kota Padang, penciptaan pertunjukan ini menggunakan tradisi sastra lisan dan ragam kesenian tradisional yang berkembang di Padang sebagai basis penciptaan karya, beberapa di antaranya: tari Balanse Madam, Saluang dan Dendang Pauah, Gamad, Silek Pauah, Barongsai, Tari India, Tari Piring, Tari Sampan, dan lain-lain.

 

/1/

“Kalau bukan kita, siapa lagi?”

Ungkapan itu tepat sekali untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya kepedulian yang bermulai dari diri sendiri. Tentu saja kepedulian yang disertai bukti nyata. Ketika orang-orang sibuk dengan aneka macam wacana gerakan sosial yang berbuih-buih seperti, “Ayo hidup sehat!”, “Pilihlah tontonan yang edukatif!”, “Dahulukan kebutuhan, bukan keinginan!”, “Biasakan hemat energi!”,atau “Mari mencintai produksi dalam negeri!” yang tidak disertai dengan aksi konkret, semuanya jadi sekadar omong kosong. Banyak hal ironis yang terjadi di dalam kesehariaan berkenaan implementasi jargon-jargon yang berat dalam tataran retorika tersebut; Orang-orang terus mengonsumsi makanan yang berlimpah pemanis dan pewarna buatan serta penyedap dan pengawet makanan yang merusak sistem pencernaan, keranjingan menonton sinetron kejar tayang yang mengentuti akal sehat, membeli bermacam-macam barang yang diinginkan meskipun tidak terpakai sehingga mengganggu keuangan, membiarkan lampu-lampu terus menyala pada siang hari yang terang benderang, atau mengejar-ngejar merk asing didorong gengsi.  

Maka, ketika jargon “Padang Kota Tercinta” mengandung isyarat bahwa kota ini secara romantik sangat dicintai warganya, hal itu menuntut pembuktian. Tak cuma manis dalam ota. Mencintai Kota Padang dapat dilakukan dengan berusaha mengenal sejarahnya, menelusuri peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di atas bentangan geografisnya berupa peperangan, konflik sosial, bencana alam, wabah penyakit, pembangunan, perdagangan, perayaan, dan peristiwa-peristiwa lain yang dapat mempertebal album memori kolektif masyarakat yang meninggalinya. Mencintai kota juga dapat dilakukan dengan mengeksplorasi sistem sosial masyarakat, keunikan budayanya, mengidentifikasi etnis-etnis yang menjadi komponen masyarakat sebagai harmoni kehidupan, serta produk kesenian yang turut memberi corak atas dinamika kehidupan masyarakat yang tidak cuma bekerja sesuai mata pencarian masing-masing, namun juga menikmati anugerah cita rasa estetik yang membuat hidup lebih indah dan bernilai. Kesenian dan kebudayaan akan memberi nilai lebih terhadap kondisi geografis yang bersifat alami sebagai ciptaan Tuhan. Penciptaan karya seni didorong hawa nafsu manusia yang berhasrat pada rasa indah, lezat, atau nikmat dengan kontrol akal sehat atau budi pekerti. 

Mencintai kota berarti merawat dengan sepenuh hati apa yang menjadi entitasnya; merawat segala komponen identitas yang bersifat fisikal, seperti bangunan dengan keagungan desain dan arsitekturnya, monumen dan prasasti, pusat-pusat aktivitas publik, atau yang bersifat nonfisikal seperti sistem sosial, nilai dan peristiwa budaya. Merawat negeri terwujud dalam bentuk kerja kreatif Komunitas Seni Nan Tumpah ini yang menyuguhkan pertunjukan “Catatan Si Padang” dalam kerja kreatif yang merangkul berbagai komponen yang eksis dalam sejarah panjang Kota Padang.



/2/

Dunia hari ini adalah dunia yang serba digital, serba cepat, dan mengglobal tanpa batas.

Karya dan peristiwa seni mutakhir telah menunjukkan semangat adaptasi yang menggembirakan. Pertunjukan tidak lagi dikemas secara konvensional mengusung panggung dengan perangkat artistik dan cerita atau tema tertentu dimainkan para pelakon. Namun telah berinovasi dengan tata artistik, laku peran, dan konsep visual yang mengalami pembaruan. Tema cerita akan berulang, namun eksekusi kreatif menunjukkan semangat dalam menjelajah gagasan penciptaan yang tak terbatas. Bentuk seni pertunjukan yang beradaptasi dengan kemajuan zaman dan karakter masyarakat penonton. Penonton generasi kekinian sangat intim dengan kecanggihan materi audio visual atau bentuk-bentuk sinematik yang memuaskan mata dan telinga sejak telepon pintar (smartphone) sudah menjadi perangkat vital yang tak bisa lepas dari tangan.

Memasukkan teknologi digital dalam properti pendukung adalah stategi cerdik yang dipilih tim produksi pertunjukan “Catatan Si Padang.” Video prolog dan epilog yang menampilkan seorang anak perempuan yang berlaku sebagai pelancong antusias sedang mengeksplorasi Kota Tua dengan bangunan-bangunan lama yang eksotik termasuk gedung Geo Wehry & Co yang sudah terdaftar sebagai cagar budaya. Adegan gadis kecil yang disorot dengan kamera menggunakan drone memberi sensasi kepada penonton fenomena artistik di dalaam pertunjukan sangat dekat dengan realitas kehidupan Kota Padang.

Menurut Soedarsono, seni pertunjukan adalah sebuah rumpun seni yang berfungsi sebagai sarana ritual, hiburan pribadi, dan presentasi estetis yang mengajarkan bagaimana selayaknya manusia berprilaku sosial.Menurut Bagus Susetyo, seni pertunjukan adalah sebuah ungkapan budaya, wahana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan perwujudan norma-norma estetik-artistik yang berkembang sesuai zaman, dan wilayah dimana bentuk seni pertunjukan itu tumbuh dan berkembang. Seni pertunjukan harus melibatkan beberapa unsur seperti ruang, waktu, gerak tubuh seniman dan juga hubungan seniman dengan penonton. Ruang dan kehadiran penonton menjadi faktor penting di dalam pergelaran sebuah seni pertunjukan sesuai pendapat Sapardi Djoko Damono, seni pertunjukan merupakan cabang seni yang memiliki tiga unsur yakni sutradara, pemain, dan penonton. Sekalipun peristiwa seni pertunjukan dapat disiarkan melalui video streaming, namun keutuhan sebuah seni pertunjukan belum bisa tergantikan melalui aktivitas menonton rekaman atau siarang langsung sebab ada dimensi ruang yang terlibat.

Seni pertunjukan mempunyai sejumlah fungsi. Di antaranya fungsi estetik sebagai media untuk mengekspresikan diri serta membuktikan hasil karya para seniman yang dituangkan dalam musik, tari dan lain sebagainya. Fungsi hiburan atau rekreasi sebagai penghibur saat seseorang jenuh dengan segala aktivitas sehari-hari. Hal ini terbukti efektif dengan melihat banyaknya antusias masyarakat dalam menonton seni pertunjukan. Seni pertunjukan dimanfaatkan pula sebagai media ritual keagamaan yang biasanya menggunakan gerakan, nyanyian atau ekspresi khusus yang hanya dapat digunakan pada upacara adat atau keagamaan saja. Fungsi sosial seni pertunjukan, tampak pada pengaruh pertunjukan yang menarik massa untuk berkumpul di suatu tempat menyaksikan pertunjukan, memberikan reaksi serta melakukan interaksi penampil di atas panggung atau sesama penonton. Seni pertunjukan juga mempunyai fungsi edukasi melalui kandungan informasi dan nilai-nilai pendidikan yang dapat direnungkan oleh penonton.

Kesenian merupakan bagian dari kebudayaan yang berkembang dinamis seiring dengan pergerakan kebudayaan. Sifat dasar kebudayaan yang dinamis ditunjang dengan keinginan manusia untuk terus berupaya memperbaiki kehidupannya baik aspek fisik ataupun psikisnya. Unsur kesenian dapat dianggap sebagai sarana ampuh untuk memperbaiki atau mengatasi permasalahan psikis manusia. Dengan melihat, mendengar, merasa atas apa yang disuguhkan dalam sebuah kesenian, manusia dapat menyegarkan pikiran yang telah terbebani oleh berbagai macam masalah kehidupan sekaligus melakukan perenungan atas nilai-nilai kehidupan yang direfleksikan dalam karya seni.

 

/3/

Kolaborasi karena kita tak bisa sendiri.

Hari ini zamannya kolaborasi. Target-target dan tujuan yang telah direncanakan riskan untuk dibereskan sendirian, hal ini berlaku di berbagai sektor kehidupan, seperti pemerintahan, bisnis dan perdagangan, teknologi, pendidikan, serta kesenian. Di dunia otomotif misalnya tampak kolaborasi Toyota dan Daihatsu melahirkan varian mobil-mobil kembar, seperti Rush-Terios, Xenia-Avanza, dan Calya-Sigra. Di sektor bisnis kuliner juga terlihat kolaborasi kedai kopi dengan resto, barbershop, atau toko buku.

Kolaborasi dalam kesenian bisa dilakukan melalui kerja sama lintas sektor, misalnya seni pertunjukan dengan tari dan musik, sastra dengan seni rupa, atau film dengan musik. Kolaborasi bidang kesenian dengan bidang lain juga, seperti dengan teknologi komputer, riset sejarah, kuliner. Kolaborasi dapat menghasilkan karya yang kaya dan multidimensi sehingga dapat menghadirkan refleksi zaman yang penuh makna.

Pertunjukan Catatan Si Padang ddiproduksi dengan melibatkan sekitar 80 orang personil dari berbagai bidang, yakni teater, tari, musik, fashion, instalasi, audiovisual, publikasi media, manajemen iven, tata cahaya, sound system, dan lain-lain. Kolaborasi dari unsur-unsur yang beragam tersebut berhasil menciptakan suguhan pertunjukan yang sangat rancak. Visualisasi panggung yang menyerupai bangunan rumah, ruko tua, menara, gudang penyimpan remah, pasar, jalanan, dilengkapi properti gerobak, pedati, karung-karung, dedaun kering, obor, telong-telong warna-warni dipadu cahaya lampu yang dramatis, kilasan-kilasan materi visual motion grafis dan suara menyerupai debur ombak, lengking kapal, dan detak jam.

Unsur-unsur kesenian yang mendukung pertunjukan ini juga menunjukkan kesungguhan kolaborasi, dengan masuknya tradisi lokal Minangkabau seperti dendang, saluang, bansi, silek, tari piriang, dan rabab yang berpadu dengan kesenian etnis non-Minang, seperti tari Balanse madam, tarian India, dan atraksi barongsai.


/4/

Paket komplit yang tidak setengah-setengah.

Pertunjukan “Catatan Si Padang” yang telah sukses disuguhkan kepada khalayak penikmat seni, baik secara langsung di gedung Genta Budaya Abdullah Kamil selama tiga malam, maupun melalui tayangan video di kanal YouTube Ditjen Kebudayaan merupakan sebuah capaian yang layak diapresiasi. Pertunjukan ini telah memuaskan penikmat seni yang haus akan peristiwa seni sejak bercokolnya pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas kehidupan. Adanya iven kesenian yang menandai mulai pulihnya kondisi negeri menjadi upaya penyelamatan atas ekosistem kreatif yang tidak hanya mencakup pelaku seni tetapi juga para penonton yang merupakan target yang dituju dari berproduksinya tim kreatif. Tanpa penonton yang akan menikmati, memuji, atau mencaci-maki, sia-sia sajalah sebuah pertunjukan jika hanya akan dilihat dan dibicarakan kalangan pembuat sendiri.

Pertunjukan ini sangat istimewa karena kekuatan elemen-elemen pendukungnya. Konten dramatik yang diangkat dari naskah kumpulan puisi “Catatan Si Padang” karya Muhammad Ibrahim Ilyas memberi materi yang kaya untuk pertunjukan ini. Diksi-diksi yang menggunakan berbagai nama geografis lokal Padang tentu membangkitkan memori dan persepsi khusus bagi orang yang mendengarnya, seperti Pasa Gadang, Banda Kali, Olo, Gunuang Pangilun, Pantai Puruih, Emma Haven, dan Kuranji. Kehadiran nama-nama tersebut membawa serta sejarah dan lokalitas budayanya. Teks puisi bergaya tuturan Minangkabau yang dijadikan bentuk puisi member daya gugah sendiri, seperti “dari los baro ka pasa mambo, dapatkah kau tempatkan kami hanya sebagai tambo? sejak perang pauh sampai syarif di olo, cukupkah tumpahan darah sekedar catatan sejarah? sayup gamaik padang nyeri menjelajah sampai ke hariku. kotaku masih ada, betapa pun tak berdaya….” Kekhasan gaya puisi dengan rima memberi efek irama dialog seperti pertunjukan tradisonal yang menggunakan bentuk pantun dan syair. Narasi yang menggunakan penggalan-penggalan puisi member efek suasana pertunjukan.

Catatan Si Padang” yang dibuat sebagai bagian Program Jalur Rempah Kemendikbud RI ini adalah upaya nyata untuk merawat negeri melalui kesenian, sekaligus merawat keberlangsungan kesenian itu sendiri. Sebab, kesenian adalah system yang komplit, melibatkan ruang dan waktu, seniman, medium karya, dan penonton serta kritikus. Digelarnya pertunjukan ini membangkitkan optimism bahwa kesenian di negeri ini akan terus berkembang seiring zaman.[]

 

Ragdi F. Daye, penulis puisi dan cerita pendek. Bukunya yang telah terbit Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2010), Rumah yang Menggigil (2016), dan Esok yang Selalu Kemarin (2019). Bekerja di Taman Budaya Sumatera Barat.

Post a Comment

0 Comments